Judul asli                       : Al-Qabas an-Nuur al-Mubiin min Ihya’ Ulumuddin

Penulis                           : Al-Allamah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Penerjemah                  : Yunus bin Ali al-Muhdhor

Desain cover                : Team Cahaya Ilmu Publisher

Layout isi                      : Team Cahaya Ilmu Publisher

Cetakan                       : Jumadil Awal 1442 H / Januari 2021 M

Jumlah halaman : xii+111 hal, 19,5 x 13,5

Diterbitkan                   : Penerbit Cahaya Ilmu Publisher Surabaya

Sinopsis Buku :

Al-Allamah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin asy-Syeikh Abibakar bin Salim ra merupakan tokoh ulama dan panutan umat dizamannya. Dari goresan penanya telah lahir puluhan karya agung yang mampu menghiasi cakrawala Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Beliau adalah seorang pendidik yang handa, da’i yang santun dan seorang guru yang bijak. Dengan karya-karyanya kita beliau menekankan pada kebersihan hati dan selalu meneladani Nabi Muhammad SAW, sahabat, ahlul bait, serta para shalihin.

Buku yang ada ditangan anda sekalian ini adalah terjemahan dari salah satu karya beliau yang berjudul Al-Qabas an-Nuur al-Mubiin min Ihya’ Ulumuddin. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin. Sengaja dalam terjemahan ini kami membaginya dalam beberapa bab, sehingga memudahkan bagi mereka yang membacanya.

****

Judul buku ini sangat menarik bagi saya sebagai pembaca, meskipun buku ini terjemahan dari kitab asli yang berjudul Al-Qabas an-Nuur al-Mubiin min Ihya’ Ulumuddin. Karena judul ini singkat dan meningatkan kita yang pantas disembah itu hanyalah Allah. Dan buku terjemahan ini sangat terhipnotis bagi pembacanya. Mengapa? Karena selama ini banyak manusia hanya memikiran duniawi bukan akhirat. Akhirnya keluarlah penyakit yang dimana sangat dibenci oleh Allah, salah satu hati (qolbu) memiliki rasa riya’. Seakan-akan manusia itu paling benar dan telah melaksanakan ibadah kepada Allah padahal niat kita hanya untuk manusia.

Isi kandungan buku ini sangat ringan sekali, namun sangat menyentuh hati (qolbu). Tentunya buku ini bisa menjadi bekal buat kita untuk mengurangi kehidupan di dunia guna menuju alam akhirat kelak nantinya. Saya sebagai pembaca, seakan terbawah menuju lautan nasihat dan petuah yang sesuai dengan apa-apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari selama dunia ini.

Buku ini melahirkan untuk mengingat manusia bahwa dunia ini hanya sementara, karena nanti kita akan meninggalkan dunia ini dan pulang ke akhirat. Secara garis besar, penerjemah dari kitabnya guru muliah Habib Umar bin Hafidz ini, menuangkan ide dan gagasan agar dibaca oleh orang lain. Adapun seorang yang cerdas, maka ia akan menutup sumber air kotor dan akan membuka sumber air yang bersih, sehingga air sumur itu dipenuhi dengan air yang bersih. Tetapi jika ada sumber yang kotor, maka ia berusaha sekuat tenaganya untuk menutupnya tanpa paksaan.

Seorang boleh menutupi amal ibadahnya agar ia selalu ikhlas hanya karena Allah swt semata, tetapi boleh juga ia menunjukkan ketaatannya agar perbuatannya dicontoh orang lain. Salah kutipan dari “Sayyidina Hasan ra berkata : Kaum muslimin mengetahui bahwa rahasia lebih baik dari memperlihatkan amal ketaatannya kepada orang lain. Karena itu Allah swt lebih memuji kepada yang menyembunyikan amal kebajikannya daripada orang yang menunjukkan ketaatannya.” (hal.61).

Buku ini terdiri beberapa 11 sub judul sesuai dengan judul Tuhanmu Allah SWT ataukah Manusia??. Yaitu, membenci perbuatan riya’, hakekat riya’, penjelasan tingkatan riya’, riya’ yang tersembunyi, riya’ yang menggugurkan pahala kebajikan, penjelasan cara menghilangkan perasaan riya’ dari hati seorang, menunjukkan ketaatan dibolehkan, seorang dibolehkan menyembunyikan kesalahannya, seorang meninggalkan ketaatan karena takut timbul riya’ di hatinya, seorang meningkatkan ibadahnya setelah dilihat orang banyak, dan yang harus dilakukan seorang murid sebelum dan sesudah beramal maupun ketika beramal.

***

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca lainnya untuk membaca buku ini ditulis oleh guru mulia Al Habib Umar bin Hafidz yang kebetulah diterjemahkan oleh Yunus bin Ali al-Muhdhor ini. Mengapa? Karena buku ini sangat cocok dan sebagai acuan untuk mengurangi rasa penyakit riya dalam hati (qolbu) kita ini.