Malam turun perlahan, seperti tirai tipis yang menutup panggung dunia.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berpendar redup,
seolah mengerti bahwa manusia sering terang daripada apa pun yang memantul di permukaan aspal.
Jalan – jalan basah setelah hujan tanpa memantulkan kenangan –
kenangan yang tak pernah selesai, tanpa pernah benar-benar hilang.
Gerimis kembali turun kecil dan ragu,
seperti seseorang yang mengetuk pintu,
tak tahu apakah ia disambut atau hanya menjadi tamu yang singgah sebentar.
Namun gerimis malam itu mengundang pangsa,
mengajak seluruh rasa berkumpul,
membiarkan hati membuka diri pada kemungkinan – kemungkinan yang tak pernah sempat diucapkan.
Di bawah payung gelap langit,
aku berjalan dengan langkah pelan.
Setiap tetes air yang jatuh seolah membawa pesan yang tak sempat kukirimkan kepadamu.
Ada sesuatu yang merayap pelan dari ujung waktu,
mengajakku kembali ke cerita yang belum selesai ditulis – cerita tentang kamu, tentang aku,
tentang pertemuan yang begitu sederhana,
namun diam-diam mengubah arah semesta kecil dalam diriku.
Izinkan malam ini menjadi saksi,
bahwa aku masih menyimpan namamu dengan tenang.
Izinkan butiran debu, sekecil apapun,
ia ingin memilikimu meski ia tahu dunia terlalu luas,
dan takdir seringkali berputar tanpa mempedulikan permintaan hati.
Tetapi bukankah cinta selalu menemukan caranya,
meski hanya melalui desir angin yang lewat,
atau serpihan cahaya yang jatuh diantara dua langkah, kita yang tak pernah benar-benar bertemu?
Aku terus berjalan di jalan yang basah itu,
sementara gerimis menyelimuti udara seperti bisikan yang tak pernah berani menjadi suara.
Dan di tengah kesunyian yang lembut itu,
aku sadar : setiap kali malam turun,
setiap kali hujan mengetik bumi,
aku kembali menemukanmu – bukan dihadapanku,
melainkan di dalam diriku: tempat dimana perasaan tak pernah meminta izin untuk tumbuh.
Malam pun memeluk kota, dan aku membiarkan hatiku memelukmu dalam diam.
Begitu sederhana, begitu kecil, namun begitu abadi.
Karena sesungguhnya, dalam gerimis yang mengundang pangsa itu,
aku kembali belajar bahwa mencintaimu adalah cara paling sunyi namun paling jujur,
untuk menjaga dunia tetap hangat.
Waru, 21 November 2025

SYAIFUL HIDAYAT lahir di Desa Paberasan pada tanggal 7 Juli 1995. Saat ini, ia dikenal sebagai seorang jurnalis dan penulis buku. Sebagai seorang penulis, Syaiful telah berkontribusi dalam media massa dengan artikel-artikel yang memberikan inspirasi dan dampak positif. Karya tulisnya seperti “Sembako untuk Pengguna Ojek” dan “Sembako untuk Mahasiswa” yang dimuat di Surat Kabar Surya pada tahun 2020 dan 2021 merupakan contoh kontribusinya dalam menyuarakan isu-isu sosial dan pendidikan.
Untuk kontak lebih lanjut, Syaiful dapat dihubungi melalui email syaifulh456@gmail.com atau melalui HP/WA di nomor 085784831449. Informasi lebih lanjut tentang aktivitasnya dapat ditemukan di Instagram dengan akun @bung.syaiful.


