Kemandirian Pondok Pesantren ini perlu perhatian agar pesantren ini semakin fokus meningkatkan kualitas lembaga peranan pendidikan, sehingga tidak menjadi lembaga komersial yang akan tidak membebanoi walisantri. Maka, Pondok Pesantren ini bisa menjadi lebih baik apabila tidak memperhatikan kemandirian lembaga.

Pondok Pesantren Tahfidzhul Quran Islamic Center eLKaDI merupakan salah satu pondok pesantren fokus pada bidang tahfidz quran dan dakwah. Karena, Pondok Pesantren ini mencetak generasi dakwah yang militan. Bahkan, Pondok Pesantren ini diasuh oleh Ustadz Shohibul Lathif, S.S., M.Pd dan Dewan Pembina Ponpes adalah KH. Musthofa Mustazam, L.c., M.A dan Ustadz Muhammad Ali David, S.Pd.

Ustadz Shohibul Lathif menyampaikan bahwa memang awalnya ingin memiliki Pondok Pesantren Tahfidz dan lembaga pendidikan formal dalam satu kawasan dan manajemen.

“Alhamdulillah, tak menyangka saat ini bisa memiliki pondok pesantren tahfidz dan lembaga formal dan mampu mengantarkan santri/santriwati menghafal al quran dan hadist dalam waktu 8 bulan metode tikrar dan membekali cara dakwah,”ujarnya saat ditemui ponpes eLKaDI, Jumat (01/4/2021).

Selain itu, kata Ust. Lathif, mampu mencetak generasi emas menjadi penghafal al-quran dan bias menyampaikan isi kandungan al quran dan hadis pada masyarakat (mendakwakan isi al quran dan hadis-red).

“Namun, pondok pesantren ini memiliki dua program untuk membekali santri/santriwati. Diantaranya adalah program karantina tahfid, program entrepreneur seperti peternakan, perikanan, dan perkebunan, program pengiriman santri untuk berdakwah di luar daerah,”tambahnya.

“Pada kesempatan itu, kami berharap kedepan lebih banyak lagi yang daftar di pondok pesantren ini. Selain itu, pondok pesantren ini siap mengantarkan santri/santriwati menjadi penghafal al quran, Da’I, mandiri, serta jiwa entrepreneur yang tinggi,”tandasnya.

Sejalan dengan Dewan Pembina Ponpes Tahfidzhul Quran Islamic Center eLKaDI, Ustadz Muhammad Ali David, S.Pd mengatakan bahwa Pondok Pesantren eLKaDI ini merupakan pondok yang menerapkan metode menghafal Al Quran dari Syaamil Quran yaitu metode Tikrar.

“Yang kemudian metode ini digabungkan dengan model karantina. Alhamdulillah, metode ini cukup efektif sehingga lebih cepat menghafal Al-Quran. Dan jumlah sistemnya sebanyak 4332. Dengan rincian  4 hari menghafal, 3 hari Murojaah, 3 pekan menghafal, 2 pekan murojoaah,”ungkap Ust. Ali, sapaan akrabnya.

Tak kalah menarik, ternyata pondok pesantren ini memberikan reward kepada santri yang cepat menghafal Al Quran 30 Juz dan Hadis. Salah satunya adalah Rihlah atau Tadabur Alam yang membuat anak-anak lebih semangat dalam menghafal Al Quran. Selain ini, pesantren  berada di wilayah pedesaan sangat membantu anak-anak dalam mempercepat hafalan.

“Setelah lulus dari pondok pesantren ini, berharap para santri/santriwati tetap menjaga hafalan Al quran 30 Juz dengan mutqin dan 300 hadis pilihan. Selain itu juga, mampu menjadi imam sholat dengan baik dan dai yang baik di masyarakat nantinya serta memiliki jiwa entrepreneurship,”tukasnya.