Oleh. Syaiful Hidayat 

Pagi tadi saya berangkat menuju Gresik dengan menaiki sepeda motor. Udara masih terasa sejuk, jalanan relatif lengang, memberi ruang bagi pikiran untuk bersiap menjalani agenda hari ini. Tujuan saya adalah Pondok Pesantren Al Ibrohimi, Manyar, Gresik— sebuah pesantren yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan klasik, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan zaman.

Kedatangan saya ke pondok pesantren tersebut bukan tanpa alasan. Saya diundang sebagai narasumber untuk mengisi pelatihan copywriting jurnalistik dan storytelling. Sebuah tema yang mungkin terdengar modern, tetapi justru sangat relevan dengan kebutuhan santri di era digitalisasi saat ini.

Era digitalisasi telah mengubah banyak hal, termasuk cara menyampaikan pesan, berdakwah, dan mempromosikan karya. Informasi bergerak cepat melalui media sosial, website, dan berbagai platform digital lainnya.

Di sinilah kemampuan menulis yang baik, jujur, dan menyentuh menjadi sangat penting. Copywriting jurnalistik dan storytelling bukan sekadar teknik merangkai kata, melainkan seni menyampaikan nilai, fakta, dan pesan dengan cara yang mudah dipahami serta berkesan bagi pembaca.

Dalam pelatihan tersebut, saya melihat antusiasme para santri yang luar biasa. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Hal ini menjadi pengingat bahwa santri tidak hanya mampu menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga dapat tampil sebagai komunikator yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Hari ini memberi saya pelajaran berharga. Berbagi ilmu di lingkungan pondok pesantren selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pondok pesantren tetap menjadi ruang penting untuk menanamkan etika, kejujuran, dan tanggung jawab dalam setiap kata yang ditulis dan disebarkan.

Perjalanan pagi ke Gresik hari ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin—tentang harapan, perubahan, dan peran kecil dalam menyiapkan generasi santri yang siap menyongsong masa depan tanpa kehilangan jati diri.

Kendungturi, 3 Februari 2026