Aku hanya insan fana yang terseret harap,
terpikat lembutmu yang tak pernah biasa.
Di antara daya yang sulit kupahami,
kau menjelma menjadi segalanya—
meski aku tahu, aku baru sebatas
penikmat senyummu yang singgah sesaat.

Kadang cinta membuat logika tersesat jauh,
menciptakan perang yang tak kunjung reda di kepala.
Namun setiap kali tatapmu hadir,
ada dopamin yang hidup dan menari,
meski senyummu bukan ditujukan
hanya untukku semata.

Andai cintaku tersusun sebagai gagasan utama tanpa kalimat pembuka atau jeda,
kisahku mengagumimu takkan pernah selesai.
Dalam langkah yang tersesat aku berserah,
sebab bagiku, hadirmu adalah rahmat.
Andai kecantikan dan senyummu kutulis dalam buku,
entah berapa halaman yang harus ikut bernapas.

Indrapura, 5 Desember 2025