Setiap sore, ada saja kejutan kecil yang diberikan alam. Langit yang semula biru berubah perlahan menjadi kelabu. Angin turut membawa aroma tanah kering yang siap disambut air. Lalu tanpa aba-aba, hujan turun begitu saja – membasahi bumi tanpa sempat menyapa terlebih dulu. Fenomena ini sering mengundang bertanya : mengapa setiap sore pasti hujan? Dan lebih jauh lagi, apa makna yang tersirat di balik hujan sore hari, terutama ketika dinikmati dari sebuah warkop sederhana sambil memperhatikan orang-orang di dalamnya?.
Hujan terjadi sore karena proses alam yang berlangsung sejak pagi. Sinar matahari menghangatkan permukaan bumi, membuat air menguap dan naik ke atmosfer. Menjelang sore ini, suhu udara turun, sehingga uap air yang terkumpul berubah menjadi titik – titik air dan membentuk awan yang semakin berat. Ketika awan tak mampu lagi menahan bebannya, hujan pun turun. Proses ini terjadi hampir setiap hari di wilayah tropis termasuk Jawa Timur, sehingga hujan sore menjadi pemandangan yang akrab bagi kita.
Namun, hujan sore bukan hanya soal sains. Di warkop, ketika suara hujan mulai terdengar di atap seng dan aroma kopi hitam menguap perlahan, suasana berubah menjadi lebih hangat. Para penghujung tanpa tenggelam dalam dunia mereka maisng-masing, ada yang sibuk dengan handphone, ada yang bercerita dengan suara setengah berteriak agar terdengar di tengah derai hujan, da nada pula yang hanya memandangi jalan yang basah sambil minum kopi dengan pelan-pelan.
Dari sudut pandang penulis, hujan sore menghadirkan makna tersendiri. Ia seolah menjadi pengingat bahwa waktu bisa berhenti sejenak. Aktivitas luar terhalang, langkah orang-orang melambat, dan kita dipaksa mengambil jeda. Dalam jeda itu, ada kesempatan untuk melihat sekitar yaitu senyum kecil penjaga/karyawan warkop lepas pelajar yang berteduh, atau wajah lelah pekerja yang akhirnya bisa duduk tenang.
Hujan sore juga mengajarkan tentang ketidapastian yang indah. Ia datang tiba-tiba tanpa menyapa, namun selalu membawa ketenangan setelahnya. Seperti hidup, yang kadang memberikan hal-hal tak terduga namun tetap bisa kita nikmati jika mau menerima ritmenya.
Jika, apa makna tersirat dari hujan sore ini?, ia adalah pengingat bahwa kesibukan bukan segalanya. Bahwa ada keindahan dalam jeda, dalam keheningan, dan dalam momen kecil yang sering terlewatkan – terutama ketika kita menikmatinya sambil menyeruput kopi hangat di warkop sederhana ini.
Warkop STS Gayungsari, 22 November 2025

SYAIFUL HIDAYAT lahir di Desa Paberasan pada tanggal 7 Juli 1995. Saat ini, ia dikenal sebagai seorang jurnalis dan penulis buku. Sebagai seorang penulis, Syaiful telah berkontribusi dalam media massa dengan artikel-artikel yang memberikan inspirasi dan dampak positif. Karya tulisnya seperti “Sembako untuk Pengguna Ojek” dan “Sembako untuk Mahasiswa” yang dimuat di Surat Kabar Surya pada tahun 2020 dan 2021 merupakan contoh kontribusinya dalam menyuarakan isu-isu sosial dan pendidikan.
Untuk kontak lebih lanjut, Syaiful dapat dihubungi melalui email syaifulh456@gmail.com atau melalui HP/WA di nomor 085784831449. Informasi lebih lanjut tentang aktivitasnya dapat ditemukan di Instagram dengan akun @bung.syaiful.


