Pertama kali dengar “Rumah Virus Literasi atau disingkat RVL” itu pun lewat status Whatsappnya Bapak Khoiri yang kebetulan guru terbaikku. Wah saya langsung balas status beliau dengan bilang “Siap Gabung Pak”. Langsung saya gabung ke group Whatsapp Rumah Virus Literasi (RVL) disitu saya memulai semangat kembali menulis produktif. Minimal satu hari bisa menulis.

Alhamdulillah, akhirnya ada komunitas sebagai wadah para penulis terutama pemula yang masih baru mulai aktif lagi dengan penuh semangat. Saat masuk ke group tersebut, saya langsung perkenalkan diri sesuai arahan dari Bapak mentorku.

Saya sangat bersyukur atas kehadiran Rumah Virus Literasi (RVL). Karena RVL ini sebagai wadah para penulis atau cinta terhadap literasi. Banyak sekali memberikan manfaat dan berdampak sekali kepada orang yang awalnya malas menulis tetapi adanya wadah komunitas ini bisa berubah menjadi semangat menulis. Ada pepatah seperti ini “Kita dekat dengan tukang wangi maka kita akan dapat wangi pula, sebaliknya kita kumpul dengan penulis maka kita akan menular ingin menulis,”.

Maka itulah, adanya komunitas RVL ini sangat memberikan manfaat dan dampak terutama orang malas menulis diubah menjadi semangat menulis setiap hari.  Setelah itu, ada info di group RVL bahwa RVL akan mengadakan Kopdar RVL 1 di Yogjakarta.

Pasti acara kopdar RVL 1 ini seru dan bisa bertemu dengan kolega seksama penulis dari berbagai macam daerahnya.  Nah, saat masih acara berlangsung di group mulai ramai dengan cerita-cerita yang begitu sampai horor. Dari cerita saja seperti itu, saya kesel dan kecewa tidak hadir acara kopdar RVL 1 ini. Karena melihat dari cerita teman-teman di group saja, bikin saya iri dan kecewa tidak ikut alias hadir kopdar tersebut.

Sayangnya, kemarin saya tidak bisa hadir karena waktu itu baru gabung di group whastapp Rumah Virus Literasi (RVL). Kalau sudah lama gabung dan tahu ada kopdar pasti sudah siapkan. Semoga saja bisa lain waktu untuk selanjutnya saja. Aamin. Nah, sedikit saya memberikan padangan mengenai Rumah Virus Literasi.

Menurut saya, komunitas RVL ini sangat bermanfaat sekali yang dimana disitu banyak sekali ilmu-ilmu baru tentang dunia kepenulisan. Selain itu juga, sharing dan berbagi tulisan bahkan bisa membuka karya bareng minimal buku. Di situ lah kenapa saya ingin gabung komunitas tersebut. Karena komunitas RVL semacam ini membawa dampak positif bagi orang awalnya tidak produktif menulis akhirnya bisa produktif menulis.

Hal itulah kenapa kita penting sekali bergabung komunitas kepenulisan. Karena disitu kita akan semangat terus berkarya melalui tulisan. Tulisan ini bisa membawa perubahan yang lebih baik. Terima kasih kepada Bapak Master sekaligus mentorku terbaik yaitu Bapak Khoiri yang telah memberikan saya kesempatan untuk bergabung komunitas lewat Rumah Virus Literasi. Adanya komunitas ini membuat saya untuk terus berkarya tanpa batas.

Saya pernah mendengar kata-kata mutiara bikin semangat untuk menulis. Salah satu kata mutiara dari Pramoedya Ananta Toer. Siapa sih tidak mengeal Pramoedya yang sangat luar biasa karya-karya buku sampai sekarang masih banyak berminat membaca buku Pramoedya Ananta toer. Apa kata mutiaranya? salah satunya seperti ini :

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. – Pramoedya Ananta Toer

Kata mutiara tersebut, bikin semangat untuk terus menulis dan berkarya. Menurut saya, kata-kata mutiara tersebut sangat memotivasi saya. Tidak hanya mutiara tetapi perlu eksekusi. Nah, dari eksekusi inilah kadang nulis, kadang juga tidak nulis. Jujur sebelumnya saya ini belum pernah mengikuti sebuah komunitas yang bergerak bidang kepenulisan yang dimana membawa dampak positif dan perubahan lebih baik.

Jujur, saya sangat bersyukur bisa mengenal Rumah Virus Literasi ini bikin semangat kembali dengan menulis dan berkarya. Tak hanya itu, komunitas ini juga memberikan ruang kepada para calon penulis dengan cara mengeshare tulisan-tulisan yang dimuat website sendiri. Darisitu banyak memberikan komentar yang positif dan membawa kemajuan untuk terus berkarya lewat tulisan.

Tidak ada kata terlambat, selama kita masih bisa mencoba, dicoba dan dikerjakan tanpa mengenal lelah apapun. Tidak perlu kita mendengar komentar-komentar negatif dari orang yang tidak membawa perubahan lebih baik lagi. Bahkan komunitas Rumah Virus Literasi ini sungguh luar biasa. Semangat menulis para anggotanya di group whatsapp ini sangat besar. Dan, juga banyak anggota komunitas ini telah melahirkan karya-karya lewat bukunya. Kemarin kodpar 1 telah diikuti dengan peluncuran buku dan workshop kepenulisan.

Saya kembali semangat menulis pun setelah gabung di komunitas RVL melalui group WA. Bagi saya para anggota RVL ini pun sangat semangat membakar sekali gairah menulis, setiap hari selalu ada tulisan-tulisan baru. Kadang-kadang bikin ceriah, sedih, atau lainnya dalam tulisan. Tetapi, tidak hanya itu para anggota komunitas ini sangat luar biasa tulisannya bikin saya tidak percaya diri.  Tapi, saya tidak mau kalah anak muda harus lebih giat menulis dengan penuh semangat dan istikomah.

Meskipun berbicara hal-ikhwal kopdar 1 kemarin namun kadungan makna karya – karya nya sangat mendalam. Membaca tulisan dari group whatsapp tersebut seperti memperoleh asupan gizi baru menulis. Bahkan membacanya dapat menjadi energi hidup dalam menghasilkan karya lebih bagus dan baik.

Namun, para anggota RVL pun diwajibkan menulis bahkan ada program setiap bulan menulis dengan disetor. Nantinya akan menjadi buku. Yang dimana buku tersebut akan dilaunchingkan acara program Kopdar RVL sendiri. Siapa sih tidak memiliki buku sendiri? hampir semua ingin memiliki buku sendiri tetapi melalui komunitas yang diwajibkan para anggotanya harus menulis bikin kita semangat untuk menulis. Agar kita bisa menciptkan sebuah karya yang abadi dan bisa mengenang sampai kapanpun.

Jadi, itu adalah tulisan saya secara pandang kepada komunitas Rumah Virus Literasi (RVL) ini dengan berharap tetap terus aktif agar bisa membawa dampak kepada orang lain, intinya bermanfaat. Melalui komunitas, saya mampu bisa menjaga tulisan secara komitmen, istikomah, dan konsisten sampai bisa menciptakan buku.