Sore ini, saya kembali menghabiskan waktu di sebuah kafe yang telah lama menjadi tempat favorit untuk menulis, berpikir, dan merenung. Suasananya selalu nyaman—interior minimalis, pencahayaan alami yang masuk melalui jendela besar, dan sudut meja yang seolah selalu menunggu kedatangan saya. Ditemani laptop setia, saya menikmati segelas es teh bernama Sturgeon Bogowonto.
Nama itu terdengar unik, bukan? Setiap kali melihat atau mengucapkannya, ingatan saya langsung kembali ke masa kuliah. Saat itu, ada seseorang yang sangat berarti. Kami sering duduk di kafe sekitar kampus, menghabiskan waktu berbincang tentang apa pun mulai dari tugas kuliah hingga mimpi masa depan. Momen-momen sederhana yang terasa begitu hangat. Rasanya seperti dunia hanya milik kami berdua.
Sekarang, semuanya tinggal kenangan. Kami sudah lama berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Namun setiap kali meneguk Sturgeon Bogowonto, memori itu seolah hidup kembali. Senyumnya, tawa kami, percakapan ringan tentang harapan—semuanya hadir begitu jelas. Bukan berarti saya belum bisa move on, hanya saja ada nostalgia manis yang tertinggal di setiap tetes es teh ini.
Dulu, kami hampir selalu menghabiskan waktu di kafe favorit sekitar kampus. Setiap sudutnya menyimpan cerita: kursi dekat jendela yang selalu kami perebutkan, hingga menu es teh spesial yang tak pernah absen kami pesan. Kadang saya merindukan momen itu. Meski kini hidup membawa kami ke arah berbeda, kenangan itu tetap memberi kebahagiaan kecil yang sulit dijelaskan.
Kini, saya duduk sendiri di kafe ini, menikmati Sturgeon Bogowonto sambil memikirkan betapa hidup sering membawa kita menuju hal-hal yang tak terduga. Saya sudah menerima bahwa kami tidak ditakdirkan untuk bersama, tetapi kenangan itu tetap menjadi bagian dari diri saya. Dari sanalah saya belajar tentang cinta, pertemanan, dan cara menghargai hidup.
Sambil mengetik catatan ini, saya memperhatikan sekitar. Orang-orang datang dan pergi dengan cerita mereka masing-masing. Ada yang duduk sendiri seperti saya, ada yang bercengkerama dengan teman, dan ada pula pasangan yang berbagi tawa. Di sudut lain, seorang pria sibuk berbicara lewat telepon, mungkin membahas rencana masa depan. Masing-masing membawa kenangan yang sedang mereka ciptakan.
Waktu terus berjalan, dan saya menyadari bahwa kenangan adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Mereka menjadi cermin tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita tumbuh. Saya bersyukur pernah memiliki kenangan indah bersamanya, meski kini hanya tersisa dalam ingatan.
Dengan menyesap es teh di gelas ini, saya kembali membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Kenangan tetap tinggal di hati, memberi warna pada hidup saya. Meskipun kami tak lagi bersama, saya tetap menghargai setiap momen yang pernah kami lalui. Mereka adalah bagian dari diri saya yang tidak akan pernah hilang.
Sore ini, saya memilih untuk melanjutkan hidup dengan semangat penuh. Kenangan itu menjadi pengingat bahwa setiap momen sangat berharga. Dan mungkin esok, saya akan kembali ke kafe ini, menikmati segelas Sturgeon Bogowonto lagi sambil menulis—menciptakan kenangan baru yang kelak akan saya hargai.

SYAIFUL HIDAYAT lahir di Desa Paberasan pada tanggal 7 Juli 1995. Saat ini, ia dikenal sebagai seorang jurnalis dan penulis buku. Sebagai seorang penulis, Syaiful telah berkontribusi dalam media massa dengan artikel-artikel yang memberikan inspirasi dan dampak positif. Karya tulisnya seperti “Sembako untuk Pengguna Ojek” dan “Sembako untuk Mahasiswa” yang dimuat di Surat Kabar Surya pada tahun 2020 dan 2021 merupakan contoh kontribusinya dalam menyuarakan isu-isu sosial dan pendidikan.
Untuk kontak lebih lanjut, Syaiful dapat dihubungi melalui email syaifulh456@gmail.com atau melalui HP/WA di nomor 085784831449. Informasi lebih lanjut tentang aktivitasnya dapat ditemukan di Instagram dengan akun @bung.syaiful.


