Ketika senja turun pelan di bahu malam,
namamu menyala seperti lentera yang tak padam.
Aku menulis langit yang merona jingga,
namun setiap hurufnya diam-diam menjelma wajahmu.

Langkah waktu berderak menuju gelap,
tapi rinduku tak pernah mengenal gelisah.
Aku menyebut senja yang menautkan hening,
padahal seluruh puisi ini hanya menuju hatimu.

Merr, 7 November 2025